Forum SMA 3 Bogor

Forum Silaturahim barudax SMA 3 Bogor
 
HomeCalendarGalleryFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 Kembalikan Migas Pada Pemiliknya!

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
nuzan
Kopral
Kopral


Number of posts : 51
Registration date : 2008-07-01

PostSubject: Kembalikan Migas Pada Pemiliknya!   Tue Jul 01, 2008 9:19 pm

http://syabab.com/index.php?option=com_content&view=article&id=336:kembalikan-migas-pada-pemiliknya&catid=26:ekonomi&Itemid=67

Kembalikan Migas Pada Pemiliknya!
Monday, 30 June 2008 07:43
Syabab.Com - Pemerintah dan DPR didesak untuk melakukan terobosan kebijakan nasionalisasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) sebagai langkah mengatasi krisis energi dan pangan saat ini. Akibat sistem kapitalisme yang dipaksakan di negeri ini, kekayaan alam malah diserahkan untuk kepentingan asing, bukan untuk kepentingan umat.

"Intinya, industri migas nasional yang saat ini telah berumur 130 tahun harus ditangani oleh bangsa sendiri. Caranya bisa dengan nasionalisasi atau apapun namanya," kata Ketua Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Effendi Siradjuddin di Jakarta, Ahad (29/06).

Kebijakan nasionalisasi, lanjut Effendi, layak dipertimbangkan apalagi jika melihat makin beratnya beban pemerintah yang terus berutang untuk menutupi defisit anggaran.

Selain itu, dewasa ini muncul kecenderungan di banyak negara pemilik tambang migas untuk menguasai dan mengelola sendiri kekayaan nasionalnya. "Pengamat energi dari Amerika Serikat bahkan meramalkan, pada 2012 hampir seluruh tambang migas di dunia sudah dikelola oleh bangsanya sendiri," katanya.

Gagasan nasionalisasi, sebenarnya juga sudah dilakukan oleh Ibnu Sutowo melalui PT Permina saat mengambilalih lapangan Branda pada 1957. Ketika itu, Ibnu Sutowo mencanangkan, dalam 20 tahun industri migas nasional harus ditangani oleh bangsa sendiri.

Namun yang terjadi sekarang adalah suatu kemunduran, sehingga industri migas nasional saat ini justru dikuasai oleh asing. "Sekitar 80 persen produksi minyak nasional masih didominasi perusahaan migas asing.

"Sebanyak 90 persen belanja sektor migas yang Rp 100 triliun per tahun, juga didominasi jasa dan barang asing," ujarnya.

Atas dasar itu Effendi meyakini, nasionalisasi tidak haram dilakukan. Selain mengemban misi menyejahterakan rakyat, tindakan tersebut juga telah berlangsung di banyak negara.

"Bagi Indonesia, keputusan untuk nasionalisasi kepemilikan asing merupakan pilihan yang tepat sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945," katanya.

Sebagai contoh, nasionalisasi ala Venezuela atas lapangan Orinoco yang dikelola ExxonMobil. Selaku kontraktor, ExxonMobil meminta harga 25 miliar dolar AS tetapi Venezuela hanya bersedia membayar 6 miliar dolar untuk lapangan Orinoco, yang memproduksi minyak 600 ribu barel per hari (bph) dengan cadangan terbukti 30 miliar barel. Venezuela juga menyelesaikan kontraknya dengan Total Prancis senilai 834 juta dolar AS, ENI Italia dibayar 700 juta dolar, Statoil Norwegia dibayar 226 juta dolar AS.

Effendi mengkalkulasi, nasionalisasi model Venezuela sangat mungkin dilakukan Indonesia. Ia menghitung, Indonesia saat ini memiliki cadangan terbukti minyak sebesar 4,7 miliar barel dan cadangan potensial yang 5,0 miliar barel.

Bila cadangan terbukti dan 50 persen cadangan potensial diproduksikan, dan asumsi harga minyak 150 dolar AS per barel, maka nilainya sekitar 1.000 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut dipotong untuk investasi dan biaya produksi sebesar 25 persen per barel, maka yang dibawa asing keluar sekitar 300 miliar dolar.

"Dengan dasar asumsi itu, maka bayar saja asing yang produksi totalnya saat ini sekitar 700 ribu bph itu. Untuk membayar perusahaan asing yang dinasionalisasi maka Indonesia masih berpotensi untung lebih dari 700 miliar dolar AS," katanya.

Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh Rusia. Nasionalisasi di Rusia diawali dengan keputusan parlemen Duma membatasi kepemilikan asing maksimum 45 persen. Diikuti dengan negosiasi pemerintah dan menyisakan 20 persen dari 80 persen kepemilikan asing.

Mengenai kekhawatiran atas iklim investasi akibat nasionalisasi di sektor migas, menurut Effendi, prioritas sekarang adalah menyelamatkan ekonomi nasional agar rakyat tidak semakin sengsara. Industri migas ke depan adalah "seller market". Artinya, dengan harga minyak yang kian melambung, bisnis eksplorasi tetap menarik, terutama bagi konsorsium perusahaan nasional.

Barang Tambang Milik Umat

Buruknya sistem kapitalisme yang dipaksakan di negeri-negeri Muslim menyebabkan kekayaan alam tersebut dijarah oleh para komprador untuk kepentingan asing. Sementara bila melirik sistem Islam sebagai sebuah sistem hidup yang berasal dari Tuhan Yang Mahatahu, Sang Pencipta manusia, sangat jelas bahwa barang-barang tambang merupakan milik umum yang dikelola oleh negara untuk kepentingan umat. Tak ada istilah privatisasi dalam Islam, yakni perampasan barang milik umum menjadi milik individu atau sekelompok orang.
Dalam ekonomi Islam dikenal adanya tiga kepemilikan, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Satu sama lain tidak bleh mengambil hak kepemilikan tersebut tanpa adanya izin syari'. Sekelompok orang atau individu tak berhak satu pun menguasai kepemilikan umum tersebut. Barang tambang sebagai sumber energi merupakan barang kepemilikan umum. Maka dalam sistem Islam semua sumber daya alam tersebut dikelola oleh negara dan keuntungannya dikembalikan kepada para pemiliknya, yakni umat.

Berbeda halnya dengan sistem ekonomi kapitalisme yang rusak, siapa pun asal punya modal dapat menguasai barang apa pun termasuk barang tambang. Walhasil, kekayaan alam di negeri ini hanya dipersembahkan untuk kepentingan asing. Sedangkan dalam sistem Islam, Khilafah Islamiyyah akan mengelola kekayaan alam ini untuk kepentingan umat bukan kepentingan asing seperti yang terjadi di negeri-negeri Muslim saat ini. Sistem kapitalisme yang dipaksakan telah menggiring para penguasa menyerahkan kekayaan alam umat kepada kepentingan asing.

Di sinilah, urgennya kaum Muslim untuk kembali kepada sistem dari Yang Mahatahu, yakni sistem yang berasal dari Allah Swt. Rabb Yang Maha Pengatur. Atas alasan apa kita berpaling dari sistem yang sempurna tersebut. Padahal semua insan akan mati untuk kembali kepada-Nya. Kelak setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban dari Allah Swt. terhadap ketaatan manusia itu kepada aturan-Nya. Lalu apa pertanggungjawaban kita kelak ketika Sang Pencipta meminta pertanggungjawaban atas semua hal ini? [z/m/ant/syabab.com]
Back to top Go down
View user profile
 
Kembalikan Migas Pada Pemiliknya!
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Para tokoh dunia KAGUM pada nabi Muhammad SAW
» Planet dan Matahari beredar pada Orbit-nya
» Kisah Hadirnya Malaikat Maut Pada Detik-detik Wafatnya Rasulullah SAW
» berpegang teguh pada agama islam, tidak pada yang lain
» SEJARAH AQIQAH

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Forum SMA 3 Bogor :: Diskusi :: Agama-
Jump to: