Forum SMA 3 Bogor

Forum Silaturahim barudax SMA 3 Bogor
 
HomeCalendarGalleryFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 NAMRU-2 dan Senjata Biologi

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
nuzan
Kopral
Kopral


Number of posts : 51
Registration date : 2008-07-01

PostSubject: NAMRU-2 dan Senjata Biologi   Tue Jul 01, 2008 9:21 pm

http://syabab.com/index.php?option=com_content&view=article&id=335:namru-2-dan-senjata-biologi&catid=33:opini&Itemid=55

NAMRU-2 dan Senjata Biologi
Monday, 30 June 2008 07:16
Oleh: Abu Nabila
Syabab.Com - Naval Medical Research Unit Two alias NAMRU-2 mulai beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968. Operasi mereka dimulai kerika Menteri Kesehatan GA Siwabessy meminta bantuan dokter-dokter Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menanggulangi wabah pes atau dikenal dengan istilah bubonic plague di Boyolali, Jawa Tengah. Karena dinilai sukses, bantuan itu lalu ditingkatkan menjadi sebuah kerjasama permanen.

Kerja sama itu dituangkan dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU) yang diteken Duta Besar AS untuk Indonesia saat itu, Francis Joseph Galbraith dan Menteri Kesehatan GA Siwabessy pada 16 Januari 1970. Meski MoU antara pihak luar dengan instansi sipil, instansi militer juga ikut memantau masalah ini. Selain Panglima ABRI/Kopkamtib yang juga dijabat Presiden Soeharto, instansi yang mengawal NAMRU-2 adalah KSAL saat itu, yakni Laksamana Soedomo.

Walaupun menjadi bagian Angkatan Laut AS, tapi karena kerjasama pertamanya dengan Departemen Kesehatan, maka NAMRU-2 mendapat berkantor di lingkungan Badan Litbang Depkes di jalan Percetakan Negara 29, Jakarta Pusat. Menurut kesepakatan awal, NAMRU-2 di bawah koordinasi Lembaga Riset Kesehatan Nasional yang kini bernama Badan Litbang Depkes, dan bermitra dengan Pusat Laboratorium Kesehatan Masyarakat yang kini bernama Puslitbang Pemberantasan Penyakit.

Dalam situsnya, NAMRU-2 mengatakan bahwa mereka terus meneliti tentang penyakit malaria, demam berdarah, hepatitis, diare, penyakit hubungan seksual dan AIDS di Indonesia. “NAMRU-2 beroperasi di Indonesia karena Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat menarik untuk diteliti. Di sini terdapat berbagai penyakit tropis yang khas,” kata Direktur NAMRU Trevor Jones, dalam konferensi pers di Kedubes AS, Kamis (24/4) lalu.

Semula NAMRU-2 hanya bertatus Detachment dengan Direktur berpangkat Kapten di bawah Command NAMRU-2 di Taipeh, Taiwan yang dikepalai seorang Captain/Kolonel. Pada tahun 1979, Command NAMRU-2 dipindahkan dari Taipeh, ke Manila, Filipina. Tahun 1991, Command NAMRU-2 di Manila dipindahkan ke Jakarta, sementara NAMRU-2 Manila turun pangkat menjadi Detachment.

Karena kebijakan peningkatan derajad NAMRU-2 di Indonesia, maka seluruh personil dan fasilitas NAMRU-2 di Manila kemudian dipindahkan ke Jakarta. Sementara itu, pada 1994, Detachment NAMRU-2 Manila malah ditutup. Kabaranya penutupan itu atas desakan Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang kemudian dijatuhkan People Power yang didukung Amerika Serikat.

Pada tahun 1986, NAMRU-2 sempat mendirikan laboratorium penelitian di Jayapura, Papua dengan bekerjasama dengan Departemen Kesehatan, dan Rumah Sakit Umum Jayapura. “Melihat besarnya permasalahan malaria di Irian Jaya (kini Papua), sehingga Irian Jaya merupakan daerah penelitian malaria yang ideal,” demikian penjelasan NAMRU-2 dalam booklet yang mereka buat saat itu untuk menjelaskan pendirian laboratorium itu.

Memang, penyakit malaria tertiana di Papua sangat khas. Setiap orang yang pernah bertugas ke Papua dipastikan pernah terjangkit penyakit ini. Tapi berbeda dengan jenis malaria lainnya, malaria tertiana tidak pernah sampai mengakibatkan kematian. Namun, penyakit malaria tertiana ini bisa mempengaruhi syaraf korban hingga setengah gila dan tak terkontrol lagi, tapi kemudian bisa disembuhkan lagi.

Anehnya, dalam penelitian penyakit malaria itu, para peneliti NAMRU-2 tidak hanya meneliti dan mengambil spesimen darah warga yang terkena penyakit malaria. Mereka juga blasak-blusuk keluar masuk hutan untuk memetakan situasi, topografi, dan meneliti penyebaran penyakit dengan cara yang tak lazim. “Mereka juga mengumpulkan data pos militer, jarak lokasi penyebaran penyakit dengan kantor pemerintahan mulai dari desa hingga provinsi, serta memetakan lokasi dengan detail,” kata seorang bekas peneliti di Badan Litbang Kesehatan yang pernah bekerjasama dengan mereka.

Lalu, di tahun 1997 NAMRU-2 Jakarta ditetapkan WHO sebagai WHO Collaborating Center untuk Emerging Infectious Diseases untuk wilayah Asia Tenggara. Maka dengan dalih meneliti penyebaran penyakit malaria, demam berdarah, HIV/AIDS, flu burung dan berbagai penyakit lainnya, NAMRU-2 mengirimkan surat kepada seluruh rumah sakit umum, daerah maupun swasta, dan bahkan puskesmas untuk mengirimkan sampel darah pasien ke NAMRU-2. “Sample darah prajurit kita pun semua ada di NAMRU-2, tanpa kita tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan,” kata seorang pejabat di Departemen Pertahanan.

Ketika menjadi Menteri Luar Negeri di masa Megawati Soekarnoputri, Hassan Wirajuda sempat menyinggung keanehan operasi NAMRU-2. Selain tidak pernah melaporkan hasil penelitian mereka sejak tahun 2000, NAMRU-2 juga tak ikut membantu pemerintah ketika sibuk menghadapi bencana nasional demam berdarah dan flu burung.

Kesibukan luar biasa justru terjadi dalam perkara lain. Mereka malah banyak mengimpor barang-barang keperluan riset seperti obat-obatan, komputer, dan alat-alat laboratorium. Ada 134 kali pengiriman barang keperluan riset masuk lewat tas diplomatik, dan 21 kali pengiriman barang pindahan staf. “Apa yang mereka bawa kita tidak tahu, tapi sangat mencurigakan,” kata seorang pejabat di Departemen Luar Negeri

Menurut seorang peneliti dari Departemen Kesehatan yang tak mau disebutkan namanya, penelitian NAMRU saat kasus kematian satu keluarga di Rangerang gara-gara flu burung pun sangat aneh. Saat itu berbagai pertanyaan besar sekitar pembawa virus flu burung itu tak juga bisa terjawab. Sebab, kotoran unggas yang disebut-sebut menjadi media penularan posisinya cukup jauh. “Anehnya, bule-bule itu malah meneliti jarak cluster dengan jembatan, kantor pemerintah, kantor polisi dan militer. Kita kan jadi curiga,” ujarnya.

Kontroversi vaksin H5N1 yang dibeberkan Menteri Kesehatan dalam bukunya, Saatnya Dunia Berubah pun menunjukkan betapa sampel virus avian flu wildvirus strain Indonesia yang dikenal sangat kuat itu telah dibajak lewat tangan WHO Colaborating Centre, yakni laboratorium NAMRU-2. Dari wildvirus strain Indonesia itulah seedvirus strain H5N1 dibentuk dengan teknologi Medimmune, sebuah perusahaan obat di Amerika untuk dibuat vaksin anti H5N1, tanpa mempedulikan etika kedokteran, maupun MTA. “Semua tentara Amerika malah sudah disuntik vaksin ini,” kata Siti Fadilah.

Belakangan berkembang kabar makin gawat. Menurut informasi sebuah LSM yang bergerak di bidang kesehatan, sejak akhir 2006 hingga awal 2007, sekitar 25 orang tewas di Jakarta secara misterius akibat penyebaran virus yang tak dikenal. “Menurut LSM kesehatan itu, infeksi virus tak dikenal yang memakan korban jiwa ini diduga akibat eksperimen biologis tertutup yang diadakan NAMRU-2,” kata Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI).

Menurut Hendradjit, sumbernya juga menginformasikan bahwa NAMRU-2 tidak hanya sekadar meneliti penyakit tropis, tapi sudah meluas dalam penelitian aplikasi militer seperti pembuatan senjata bioteroristik, yakni semacan Weapon of Mass Destruction (WMD) khusus dalam persenjataan biologis. “Bahkan pada perkembangannya, inilah yang justru menjadi agenda utama NAMRU-2,” ujarnya.

Jadi, tampaknya perhatian khusus NAMRU-2 dalam penelitian virus influenza, malaria, kolera, tipus, demam berdarah, HIV/AIDS, TBC dan sebagainya, bukanlah untuk membasmi berbagai penyakit itu. Buktinya, hingga kini penyakit-penyakit itu belum bisa dibasmi. Adalah sangat masuk di akal jika sebenarnya penelitian yang mereka lakukan hanyalah untuk meraup keuntungan bisnis dengan menciptakan obat-obat baru seperti dalam kasus vaksi H5N1.

Namun, semua itu tak hanya berhenti di tingkat penemuan obat baru. Upaya agar negara korban wabah penyakit menjadi sangat tergantung kepada Amerika pun dilakukan. Misalnya dengan merekayasa genetika, kuman dibuat menjadi semakin kuat, sementara obat yang manjur hanya bisa diperoleh dari Amerika. Jika perlu, pelepasan kuman sebagai senjata biologis pun dikerjakan. Amerika pernah menerapkannya di Kuba pada akhir 1997, ketika tiba-tiba hama tanaman thrips palmy berjangkit setelah muncul pesawat Amerika S2R yang menyemprotkan asap putih ke lahan pertanian di Havana.

Bagi Amerika, demi kepentingan bisnis, semua cara bisa dihalalkan. [Dikutip dari Tabloid Suara Islam 43, Tanggal 2 - 15 Mei 2008 M/25 Rabiul Akhir - 9 Jumadil Awal 1429 H - Opini/Syabab.Com]
Back to top Go down
View user profile
 
NAMRU-2 dan Senjata Biologi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Biologi Molekular Teknik
» Pedang Damascus
» Ajaran Biologi Failed dalam Bibel
» Bos Hotel Dikeroyok Pakai Senjata Api
» Beyond Belief - Senjata Buddhisme untuk Memerangi Kristenisasi

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Forum SMA 3 Bogor :: Diskusi :: Politik-
Jump to: