Forum SMA 3 Bogor

Forum Silaturahim barudax SMA 3 Bogor
 
HomeCalendarGalleryFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 Filosofi Kungfu Panda

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
rud1man
Jendral
Jendral


Male
Number of posts : 263
Age : 37
Lokasi : Al Ihya Bogor City
Registration date : 2008-06-26

PostSubject: Filosofi Kungfu Panda   Thu Jul 03, 2008 10:51 am

KUNG FU PANDA

Po , si Panda jantan,
yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian
untuk menjadi seorang pendekar Kung Fu. Tak disangka, dalam
suatu kompetisi,
Po dinobatkan sebagai
Pendekar Naga yang dinanti-nantikan kehadirannya untuk
melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.

Saat menonton film animasi ini, saya seperti diingatkan tentang
beberapa hal :


1. The secret to be special is you have to believe you’re special.
Po hampir putus asa
karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya
berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya
membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya
sendiri.
Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik,
berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal
yang spesial. Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa.
Seperti kata Master Oogway, You just need to believe


2. Teruslah kejar impianmu.
Po, panda gemuk yang
untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu.
Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai
impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri?
Seperti kata Master Oogway, Kemarin adalah sejarah, esok adalah
misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present
(hadiah).
Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh
kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di
masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.


3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.
Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po . Ia memandang Po tidak berbakat.
Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih
Po dalam waktu
sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat,
setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway –gurunya- bahwa Po
sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya
orang yang mampu melatihnya. Sebagai guru atau orang tua, hal
yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini
tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita
untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan
juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita
masih mampu untuk membimbing mereka.

4.
Tiap individu belajar dengan caranya sendiri dan motivasinya sendiri.
Shi Fu akhirnya menemukan bahwa [/size]Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain. Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang
kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya
gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.


5.
Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa membutakan mata
kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke
arah yang salah.

Master ShiFu sangat
menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya. Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/ murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini saya bertemu
seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan
pandangan ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.


6. Hidup memang penuh
kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.
Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya. Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.

7..
Keluarga sangatlah penting.
Di saat merasa terpuruk, [/size]Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu. Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?

from : mailing list alumni 3 bogor '98
Back to top Go down
View user profile
 
Filosofi Kungfu Panda
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Movies One Must See Before They Croak
» Did I really see my spirit guide?
» Filosofi dan Moral dalam berbisnis
» Polydactyly in the Mole (& Giant Panda): linked with testosterone - not a real finger!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Forum SMA 3 Bogor :: Diskusi :: Pendidikan-
Jump to: