Forum SMA 3 Bogor

Forum Silaturahim barudax SMA 3 Bogor
 
HomeCalendarGalleryFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 Goncangan Pasar Global dan Urgensi Khilafah 1

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
nuzan
Kopral
Kopral


Number of posts : 51
Registration date : 2008-07-01

PostSubject: Goncangan Pasar Global dan Urgensi Khilafah 1   Thu Jul 03, 2008 9:34 pm

http://hizbut-tahrir.or.id/2008/06/28/goncangan-pasar-global-dan-urgensi-khilafah/print/


Goncangan Pasar Global dan Urgensi Khilafah

Posted By iwan On 28 Jun 2008 @ 01:48 In Analisis, Ekonomi | No Comments



Oleh: Hidayatullah Muttaqin



Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang terombang-ambing kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. … “ (T.Q.S. al-Baqarah ayat 275).



A. Pengantar

Jurnal-ekonomi.org- Bursa saham dunia kembali mengalami keanjlokan (crash) luar biasa. Pada perdagangan Rabu (18/6/2008) indeks bursa Eropa mengalami kejatuhan menyusul aksi jual yang dilakukan oleh para penjudi di lantai bursa. Indeks FTSE 100 merosot 1,53%, Indeks Paris CAC 40 turun 1,23%, Indeks DAF 30 Frankfurt turun 0,6%, Euro Stoxx 50 turun 0,98%.

Sementara itu bursa Asia Pasifik mengalami pukulan yang cukup kuat. Indeks Nikei Jepang 225 turun 2%, Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 1,1%, Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,4%. Indeks Weighted Price Taiwan anjlok 1,5%, Indeks Straits Times Singapura turun 1,3%, dan NZX-50 Selandia Baru turun 1,3%. Indeks Hang Seng Hong Kong jatuh 1,4%, Indeks Gabungan Shanghai anjlok 1,5%, Indeks Gabungan KLSE Malaysia turun 1,5%, sedangkan IHSG Jakarta tertekan 0,2%.



Kerontokan bursa saham dunia terjadi menyusul laporan tentang akan terjadinya kehancuran pasar global (Global Market Crash). Surat kabar Inggris Telegraph (19/6/2008) memberitakan peringatan analis Royal Bank of Scotland (RBS) bahwa bursa global akan mengalami goncangan dalam tiga bulan ke depan sebagai akibat tingginya tingkat inflasi dunia. Analis senior Royal Bank of Scotland, Bob Janjuah mengatakan “sebuah periode yang sangat buruk akan segera menghampiri kita, bersiaplah.”



Secara rasional, dentuman inflasi di seluruh dunia menyebabkan pelemahan daya beli masyarakat internasional. Penurunan sisi demand menyebabkan anjloknya pendapatan perusahaan-perusahaan besar yang tercatat (listing) di bursa efek sehingga kondisi ini memicu aksi jual para “penjudi berdasi” di bursa efek untuk menghindari kerugian yang lebih besar.



B. Resesi AS

Di AS, gelombang harga minyak dan melemahnya permintaan masyarakat menyebabkan penurunan kinerja perusahaan raksasa ekspedisi FedEx. Kaitan penurunan pendapatan FedEx dengan pasar modal di AS adalah setiap kerugian FedEx berdampak pada penurunan keuntungan (deviden) yang diperoleh para pemegang saham FedEx.



Dalam publikasi Market Wacth (18/6/2008) dilaporkan periode kuartal kedua hingga Mei 2008 FedEx kehilangan pendapatan sebesar US$ 241 juta atau setara Rp 2,217 trilyun dengan kurs Rp 9.200 per dollar AS. Penurunan ini setara dengan penurunan laba per saham FedEx sebesar US$ 78 sen. Untuk periode tahunan, kerugian FedEx mencapai US$ 610 juta (=Rp 5,612 trilyun) setara US$ 1,96 per lembar saham.



Kerugian yang dialami FedEx mencerminkan dua sisi: pertama, turut mendorong penurunan perdagangan saham di Wall Street, AS. Indeks Dow Jones pada perdagangan Rabu (18/6/2008) sempat melemah di bawah level 12.000 yang merupakan posisi terendah dalam 3 bulan terakhir. Sebagaimana diberitakan media, pelemahan di bursa AS ini dipicu oleh pelemahan saham-saham sektor perbankan, otomotif, dan transportasi.



Kedua, sebagai perusahaan jasa kurir yang cukup dominan, penurunan pendapatan FedEx merupakan gambaran semakin turunnya aktivitas pengiriman barang baik di dalam negeri AS maupun di luar negeri. Kondisi ini menggambarkan sektor riil Amerika mengalami pelambatan akibat membengkaknya biaya produksi dan menurunnya daya serap pasar. Kondisi ini merupakan fakta bahwa negara kapitalis terbesar ini mengalami resesi ke arah yang lebih parah.



Sementara itu dalam berita Market Wacth (17/6/2008), Bank sentral AS The Fed melaporkan sektor industri AS mengalami penurunan produksi 0,2 persen. Penurunan ini sebelumnya tidak diperkirakan para ahli ekonomi di AS. Laporan ini menunjukan industri Amerika dalam bulan-bulan mendatang memasuki masa sulit. Pada tahun lalu, produksi industri AS juga mengalami penuruan 0,1 persen (year-over-year) yang merupakan penurunan pertama kali sejak Juni 2003.



Pada pertengahan Maret 2008, Martin Feldstein Ekonom Universitas Harvard yang juga Presiden Biro Nasional Riset Ekonomi AS (NBER), memperingatkan perekonomian AS sudah memasuki resesi yang terparah sejak Perang Dunia II. “Saya yakin ekonomi AS sekarang dalam resesi” kata Feldstein. Paska Perang Dunia II perekonomian AS telah mengalami 10 kali resesi.



Dari sisi fiskal, APBN AS pada 2008 mengalami defisit sebesar US$ 239 milyar (=Rp 2.198,8 trilyun) dengan peningkatan hutang negara 11,74% dalam waktu dua tahun. Tahun 2006 hutang pemerintah AS mencapai US$ 8,451 trilyun (=Rp 77.749 trilyun) dan tahun 2008 membengkak menjadi US$ 9,575 trilyun (=Rp 88.090 trilyun). Ini artinya dalam dua tahun terakhir, setiap hari hutang pemerintah Amerika bertambah US$ 1,539 milyar (=Rp 14,165 trilyun). Sementara dengan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) US$ 14,711 trilyun, (=Rp 135.341,2 trilyun), maka hutang pemerintah Amerika mencapai 65,09 persen sektor riil AS.



C. “Hantu Inflasi”

Dalam ekonomi kapitalis, inflasi selalu menghantui perekonomian negara manapun di dunia. Bahkan Presiden AS era 80-an Ronald Reagen sebagaimana dikutip The Economist (22/5/2008) pernah menyebut inflasi dengan sebutan kejam, perampok, menakutkan, perampok bersenjata, mematikan, dan pembunuh bayaran.



Inflasi bagi sektor finansial bagaikan gelombang kejut yang menjatuhkan indeks bursa saham global, sebagaimana peringatan RBS akan datangnya masa kehancuran pasar modal dunia disebabkan kuatnya tekanan inflasi yang berasal dari melonjaknya harga komoditas minyak mentah (crude oil) dan komoditas pangan.



The Economist (22/5/2008) melaporkan inflasi tahunan terkini di sebagian besar negara mengalami peningkatan yang sangat siknifikan. Cina mengalami inflasi sebesar 8,5% tertinggi selama 12 tahun terakhir. Inflasi di Rusia naik dari 8% menjadi 14%, India 7,8% tertinggi dalam 4 tahun terakhir, Brazil naik dari 3% menjadi 5%, Chile naik dari 2,5% menjadi 8,3%, Venezuela 29,3%. Sementara negara-negara timur tengah penghasil minyak inflasinya tergerek ke dua digit. Menurut The Economist, data-data inflasi ini harus diperbaharui menyusul semakin membumbungnya harga minyak mentah dunia.



Di negara maju seperti Inggris, inflasi tahunan untuk Mei (year on year) mencapai 3,3%. Tingkat inflasi ini jauh melebihi target inflasi tahunan pemerintah Inggris sebesar 2% dan memecahkan rekor inflasi tertinggi yang pernah dialami Inggris sejak Januari 1997. Gubernur Bank of England Mervyn King menyatakan penyebab inflasi yang melampaui target adalah melambungnya harga minyak dan komoditas pangan.



Di Indonesia, dampak kenaikan harga minyak dunia sangat terasa setelah pemerintah “membudakan diri” sebagai abdi pasar bebas dengan menaikan harga BBM rata-rata 28,7%. Menurut BPS, inflasi bulan Mei melonjak menjadi 1,41%. Sementara itu Bank Indonesia melalui Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono menyatakan inflasi pada bulan Juni akan tetap terpengaruh penaikan harga BBM. Menurut Dr. Hendri Saparini dalam sebuah seminar ekonomi di Banjarmasin bulan lalu, seharusnya tingkat inflasi jauh lebih besar dari tingkat inflasi yang dilaporkan BPS. Sebab bertambahnya beban masyarakat Indonesia yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah tidak dapat digambarkan oleh angka inflasi yang dilaporkan BPS.



Di negara berkembang lainnya seperti Mesir, inflasi menjadi ancaman berat bagi negeri tempat berdirinya Universitas al-Azhar. Menurut statistik yang dikeluarkan pemerintah Mesir, ancaman terlihat dari membumbungnya harga makanan dan minuman hingga 27%, transportasi 20,1%, pendidikan 37,7%, dan pelayanan kesehatan 12,1%. Sementara di Cina harga pangan melonjak 22%.



-impor dunia tahun 2006.
Back to top Go down
View user profile
 
Goncangan Pasar Global dan Urgensi Khilafah 1
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Global Mapping of Exo-Earths
» Decline in global oil prices On: Sat 07/01/2012 6:55
» Global Cooling: Is An Ice Age Coming?
» Signs Of Cooling Evident On A Global Scale
» Hagmann: Steve Quayle & "V" - Global Elite is About to Unleash Economic Armageddon [mp3 is up]

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Forum SMA 3 Bogor :: Diskusi :: Politik-
Jump to: